News Ticker

Menu

Kajian: "Konflik Pembangunan, Kebonharjo Menunggu Kepastian


“Konflik Pembangunan, Kebonharjo Menunggu Kepastian”
Terminal Peti Kemas, Kebonharjo, Tanjung Mas
Sumber : dokumentasi penulis

Pembaharuan suatu wilayah dapat berjalan apabila terdapat kolaborasi antara pembentuk kebijakan, pengelola, dan masyarakat sebagai subyek utama daripada proses pembangunan. Perbedaan paham atau penyelenggaraan yang dirasa tidak toleran oleh masyarakat merupakan tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam melakukan reaktualisasi. Tidak jarang beberapa proyek pembangunan harus kandas di tengah jalan akibat banyaknya faktor yang menghambat, seperti penolakan masyarakat, kurangnya pembiayaan, minimnya perencanaan, dan lain sebagainya.

Konflik pembangunan pun juga menyoroti Kota Semarang, sebuah kota metropolitan yang memiliki daya tarik bagi para migran, sehingga permasalahan lingkungan dan maraknya perkampungan kumuh pun tidak terelakkan. Salah satu konflik yang belum jelas titik terangnya hingga saat ini adalah sengketa lahan dan konflik berkepanjangan  antara warga Kebonharjo, Kelurahan Tanjung Mas dengan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) yang terjadi pada awal Mei 2016 silam. Peristiwa tersebut berawal pada akhir Maret 2015, dimana sejumlah karyawan PT KAI didampingi oleh aparat kepolisian menandai lokasi proyek rel kereta Tawang-Tanjung Mas yang berada di rumah warga dan memunculkan pernyataan bahwa rumah warga berdiri di tanah PT KAI, sehingga mengejutkan warga terutama RW VI,VII,VII, dan X .

Historis Kemunculan Kebonharjo

Menurut kesaksian sejumlah warga bahwasannya mereka memang meninggali rumah di lahan yang tidak resmi. Pada tahun 1950-an, Kebonharjo adalah tanah kosong yang kemudian diuruk oleh masyarakat dan dijadikan petak-petak rumah. Alasan klasik akan adanya pembangunan kampung kumuh seperti Kebonharjo dan beberapa kampung lain di Kelurahan Tanjung Mas memang sudah terdengar cukup lama. Kemajuan wilayah pesisir Kota Semarang  pasca pembangunan Pelabuhan Tanjung Mas (1884) oleh Raja William II yang menarik para migran untuk tinggal disana, tetapi tidak diimbangi dengan ketersediaan lahan  adalah alasan utama dari kemunculkan kampung kumuh di kawasan pesisir tersebut.

Konflik Berkepanjangan

Pasca pemasangan tanda lokasi pembangunan rel oleh PT KAI, warga setempat membentuk Forum RW untuk menjembatani pemikiran warga dengan pihak yang bersangkutan. Apabila dilansir dari Perda RTRW No.14/2011 Kota Semarang pasal 10 ayat (3) huruf C, pemerintah akan merubah kawasan permukiman Tanjung Mas menjadi kawasan transportasi darat dan pengembangan terminal barang Tipe-C (peti kemas). Namun, hal tersebut sama sekali tidak diketahui oleh masyarakat setempat. Adapun proyek pertama yang dijalankan adalah pembangunan rel kereta api dari Stasiun Tawang menuju Pelabuhan Tanjung Mas sejauh 3 km dan dilanjutkan dengan pembangunan lahan terminal peti kemas seluas 5 hektar. Akibatnya, pembangunan rel tersebut akan menerjang 161 rumah warga, 1 masjid, 3 mushola, 1 sekolah dasar, dan 1 sekolah diniyah. 

Menurut data yang diperoleh Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), masyarakat sejumlah kurang lebih 30.246 jiwa yang menempati Kebonharjo sejak 50 tahun silam sudah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM). BPN Kota Semarang pun menyatakan bahwa sertifikat tersebut sah menurut UU Agraria. Akan tetapi, ganti rugi atas tanah yang akan digunakan sebagai rel kereta dirasa oleh masyarakat terlalu rendah. Bahkan, pembongkaran bangunan di kawasan tersebut tergolong anarkis dan melewati batas rumah yang dirobohkan sesuai kesepakatan kedua belah pihak. Hal tersebut menimbulkan pecahnya konflik 16 Mei 2016, perlawanan warga Kebonharjo kepada aparat yang didatangkan untuk membantu proses penggusuran.

         “Hari itu saya mau berangkat kerja tapi nggak jadi karena pagi-pagi aparat polisi sudah mulai berdatangan. Warga panik akibat rumah yang dibongkar melebihi kesepakatan awal. Karena nggak terima, ya semua warga saling bahu-membahu untuk menghentikan proses pembongkaran. Dari baku hantam itu, satu warga tewas. Belum lagi warga tambah geram karena polisi membubarkan acara istighosah yang dibuat oleh warga setelah kejadian. Bukan kami tidak ingin kemajuan, tapi kami menuntut hak ganti rugi yang setimpal dan relokasi yang dimudahkan,” salah seorang warga menceritakan kembali konflik 2016 silam.

Berita Terkini Konflik Rel Tawang-Tanjung Mas


Sisa Bangunan dari Penggusuran Mei 2016 oleh PT KAI
Sumber : dokumentasi penulis

      Menurut berita dengan judul “Perkembangan Terkini Permasalahan Penggusuran Kebonharjo oleh PT KAI” oleh TribunJateng.com yang terbit pada 22 Januari 2018, kuasa hukum warga Kebonharjo, Dio Hermasyah sedang berupaya mengkomunikasikan kepada  Pemerintah Jateng agar menekan pemerintah pusat untuk segera menyelesaikan konflik berkepanjangan ini. Hingga saat ini warga setempat masih menunggu ganti rugi layak atas tanah yang terkena dampak pembangunan rel kereta api. Adapun jawaban daripada pemerintah adalah gubernur akan membantu sepenuhnya atas penyelesaian konflik tersebut.

          Pengamatan yang dilakukan oleh penulis pada 10 Maret 2018 mengungkapkan bahwa keadaan masyarakat saat ini dalam kondisi yang jauh lebih tenang, dimana sisa-sisa penggusuran bangunan warga masih terlihat dan dipenuhi vandalisme bertuliskan pemikiran warga setempat untuk menuntut keadilan. Warga pun sudah jauh lebih terbuka dan tidak kembali menegang apabila terdapat orang asing yang memasuki kawasan tersebut. Aktivitas masyarakat pun masih berjalan seperti biasanya, meskipun menurut kesaksian sejumlah warga, belum adanya kepastian serta penyelesaian dari konflik  tersebut masih menghantui warga hingga saat ini. Ganti rugi yang belum terbayar juga masih memunculkan pengharapan masyarakat agar konflik pembangunan rel kereta tersebut segera menemukan titik terang. Masyarakat pun berharap supaya pemerintah bersama gubernur Jawa Tengah segera merealisasikan janji penyelesaian sengketa lahan ini.


___________________
-HMTP Undip 2018-
Harmoni dalam Karya, untuk Planologi Jaya!

Share This:

Dz Creators

I'm Dz Creators. A full time web designer. I enjoy to make modern template. I love create blogger template and write about web design, blogger. Now I'm working with Themeforest. You can buy our templates from Themeforest.

No Comment to " Kajian: "Konflik Pembangunan, Kebonharjo Menunggu Kepastian "

  • To add an Emoticons Show Icons
  • To add code Use [pre]code here[/pre]
  • To add an Image Use [img]IMAGE-URL-HERE[/img]
  • To add Youtube video just paste a video link like http://www.youtube.com/watch?v=0x_gnfpL3RM