Bencana dari Sudut Pandang Perencana


[PUBLIK BERTANYA, PLANO MENJAWAB]

“Bencana dari Sudut Pandang Perencana”


   Indonesia saat ini tengah dirundung duka yang mendalam. Salah satu kota besar di Pulau Sulawesi beberapa waktu lalu telah dilanda bencana gempa bumi dan tsunami. Kota tersebut ialah Kota Palu yang merupakan ibukota provinsi Sulawesi Tengah. Bencana ini mampu meluluhlatakan hampir seluruh bangunan yang ada disana. Berbagai macam infranstruktur seperti jalan, jembatan, dan saluran utama tegangan listrik (sutet) pun mengalami kerusakan parah. Dilansir dari laman tribunnews.com, bahwa Jembatan Ponulele atau Jembatan Kuning yang menjadi icon Kota Palu ini sudah ambruk dan tidak dapat digunakan lagi. Banyak dari para korban yang mengalami trauma yang mendalam. Meskipun begitu, gempa bumi dan tsunami bukanlah suatu hal yang asing lagi bagi warga Indonesia, mengingat negeri ini menjadi lokasi pertemuan tiga lempeng bumi. Selain itu, predikat ring of fire yang juga disandang oleh Indonesia seakan menjadi peringatan bahwa setiap bencana dapat mengintai setiap waktu. Oleh karena itu, pengetahuan untuk masyarakat terkait bencana serta upaya mitigasi bencana melalui suatu perencanaan yang matang perlu dilakukan untuk meminimalkan dampak yang akan terjadi.

    Menurut Sariffudin, S.T., M.T., dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro, menyatakan bahwa terdapat dua terminologi dari suatu bencana, yaitu bencana sebagai disaster dan hazard. Bencana dapat dikatakan sebagai disaster apabila menimbulkan kerugian serta kerusakan, seperti rumah roboh dan jatuhnya korban jiwa. Sedangkan sebagai hazard, tidak didapati kerugian yang ternilai, contohnya gletser. Ada pun bencana di Palu merupakan sebuah disaster yang terjadi akibat pergerakan lempeng bumi. Selain dari faktor alamiah, salah satu penyebab kerugian yang terjadi adalah adanya perencanaan yang kurang memerhatikan daya dukung alam. Tentunya hal tersebut masih menjadi permasalahan di Indonesia terutama pada daerah pesisir yang memiliki karakteristik khusus. Selain itu, Dr. Eng. Maryono, ST, MT., juga menuturkan bahwa bencana Palu terjadi karena pelepasan energi yang dihasilkan oleh tekanan yang disebabkan oleh patahan kerak bumi (lempengan) sesar Pulo Karo yang bergerak. Ada pun gerakan tersebut memicu longsor bawah laut. Hal ini berkaitan dengan letak Indonesia yang berada dipertemuan antara tiga lempeng bumi. Oleh karena itu, diperlukannya tindakan mitigasi bencana yang merupakan proses untuk meminimalkan kerugian akibat bencana. Terdapat dua jenis mitigasi bencana, yaitu non-struktural yang berorientasi pada penyadaran perilaku untuk berlindung, dan mitigasi struktural dengan orientasi rekayasa infrastruktur baik pada bangunan ataupun pemasangan alat-alat khusus. Kedua hal tersebut dapat terlaksana dan berjalan dengan optimal apabila terdapat kerjasama dari semua pihak baik masyarakat setempat ataupun pemerintah. Selain daripada itu, penanaman budaya taat aturan yang mengikat juga perlu dilakukan untuk menjalankan perencanaan mitigasi bencana tersebut.

    Tidak hanya upaya mitigasi bencana yang perlu dilakukan, tetapi penangan pasca bencana pun juga sangat penting dilakukan karena berkaitan dengan pemulihan kondisi kota dan elemen-elemennya. Apabila melihat dari penanganan pasca bencana Palu, dapat dikatakan bahwa upaya tersebut tergolong cepat dan tanggap. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta lain yang ikut serta membantu pemantauan pasca bencana sudah memberikan informasi secara cepat dan aktual. Bantuan serta para relawan pun langsung berdatangan untuk membantu korban-korban gempa bumi dan tsunami di Palu. Berdasarkan sudut pandang perencanaan, bencana alam tidaklah dapat dihentikan, tetapi harus dibuat perencanaan terkait mengantisipasi untuk mengurangi kerugian akibat dari bencana alam tersebut. Jadi, dapat dikatakan bahwa fungsi seorang plannner adalah melakukan suatu perencanaan dari “hulu” hingga “hilir”.

   Hal yang dapat dilakukan dalam pernecanaan, yaitu dengan menerapkan siklus perencanaan dan evaluasi serta menentukan indikatornya secara baik. Kemudian, susun perencanaan jangka pendek (dalam bulan atau tahun) dan disusul dengan perencanaan jangka menengah serta rencana makro jangka panjang. Setelah semua perencanaan tersebut disusun, barulah planner melakukan monitoring dan evaluasi secara terstruktur. Dr. Eng. Maryono, ST, MT menambahkan bahwa perencanaan terkait mitigasi bencana di Indonesia sudah termasuk baik, tetapi aplikasinya masih lemah karena belum terbangunnya kultur, perilaku serta budaya pada masyarakat untuk menjalankan rencana tersebut. Maka dari itu, perencanaan mitigasi bencana di Indonesia masih memerlukan banyak dorongan serta upaya kesadaran setiap pihak terkait agar dapat dinyatakan keberhasilannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar