Kajian Jilid I: Gerakan Massa Berujung Petaka



GERAKAN MASSA BERUJUNG PETAKA
Siapakah yang bersalah?

   Semua orang memiliki ambisi untuk menjadi orang yang besar, untuk menjadi seorang pemimpin atau bahkan seorang yang terpandang. Sebenarnya hal tersebut sah-sah saja, tergantung bagaimana dan jalur mana yang kita pilih untuk meraih sebuah ambisi tersebut. sekilas mencoba mengingat kericuhan yang terjadi baru-baru ini di tengah meningkatnya tensi politik akibat pemilu 2019. Ketegangan politik tidak hanya menyerang anggota yang bersangkutan saja melain juga dirasakan masyarakat yang ikut mendukung masing-masing kandidat paslon, hingga mereka pun berbondong-bondong menyuarakan aksi dukungannya kepada masing-masing paslon. Hal ini bukanlah hal yang salah, perlu diingat bahwa Indonesia adalah negara demokrasi dimana bersuara untuk mengemukakan aspirasi menjadi hak setiap masyarakat dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bertanah air. Dalam hal ini, aksi mencari perhatian langsung dengan cara berunjuk rasa menjadi salah satu bentuk penyampaian aspirasi yang lebih banyak dilakukan masyarakat untuk mendapatkan perhatian dari para petinggi negara. Berdasarkan Teori Smelser tahun 1992, menyatakan bahwa kegiatan unjuk rasa sendiri merupakan sebuah tingkah laku dari sebuah kolompok yang memiliki orientasi pada perubahan norma. Tingkah laku ini timbul berdasarkan munculnya kenyakinan akan suatu kondisi atau situasi yang tidak sesuai dengan keinginan sehingga merasa perlu untuk diubah. Hal tersebut menunjukkan bahwa  sebuah gerakan aksi unjuk rasa yang di lakukan oleh sekelompok massa memiliki alasan atau latar belakang yang cukup kuat sehingga mendorong timbulnya gerakan massa tersebut. Aksi (unjuk rasa) memiliki aturannya masing masing, sebuah aksi pada dasarnya sering digunakan sebagai bentuk protes dari massa atas keputusan yang dikemukakan para petinggi yang berkepentingan, namun tidak sesuai permasalahan yang terjadi, yang nantinya akan berujung pada sebuah tuntutan. Salah satu dampak yang paling sering terjadi adalah vandalisme, sehingga banyak masyarakat yang tidak bersalah merasa dirugikan, terutama masyarakat yang berada di sekitar tempat kejadian.

   Ketegangan politik yang terjadi akhir-akhir ini berujung pada sebuah aksi demonstrasi dimana aksi tersebut cukup mencuri perhatian ditengah pergulatan politik akibat pemilu 2019, aksi unjuk rasa ini terjadi pada tanggal 22 Mei 2019. Hasil pengumuman KPU mengenai hasil perhitungan suara pemilu capres dan cawapres menjadi latar belakang terjadinya kerusuhan pada tanggal 22 mei 2019. Dalam aksi tersebut massa yang didominasi oleh pendukung dari salah satu pasangan calon menolak hasil pengumuman perhitungan suara yang telah dipaparkan oleh KPU sebelumnya. Mereka menuntut keadilan karena mereka menganggap bahwa hasil yang di keluarkan oleh pihak KPU tersebut tidak valid serta terdapat kecurangan di dalamnya. Aksi unjuk rasa yang diharapkan dapat berjalan dengan aman, namun sebaliknya aksi unjuk rasa ini berujung petaka dimana terjadi kerusuhan antara pihak demonstran dengan pihak kepolisian. Bentrokan massa dengan aparat kepolisian pun tidak dapat dihindari, kerusuhan ini terjadi di beberapa titik di wilayah Jakarta sejak tanggal 21 Mei malam.

   Kerusuhan yang terjadi saat aksi unjuk rasa tersebut dipicu oleh beberapa permasalahan yang muncul sesaat sebelum adanya pengumuman hasil real count dari KPU, antara lain :
  • Ditemukannya kecurangan di beberapa daerah, yang mana surat C1 yang diserahkan ke pihak KPU merupakan surat palsu (fotokopian), sementara surat aslinya di temukan di KPU setempat, hal ini terjadi di beberapa daerah seperti Boyolali, Menteng dan lainnya.
  • Langkah tergesa-gesa dari pihak KPU yang mengumumkan hasil real count pada dini hari tepat pada saat sebelum adanya aksi 22 Mei.

   Dengan ditemukannya beberapa bukti surat C1 yang palsu dan di tambah dengan langkah tergesa-gesa dari pihak KPU, memicu timbulnya opini-opini baru yang semakin menyulut api ketegangan politik saat itu. Masyarakat dibuat bingung, bahkan hingga pendukung salah satu paslon pun ikut merasakan kejanggalan dan merasa semakin kurang percaya dengan hasil yang di keluarkan. Hal ini lah yang menyulut adanya aksi 22 mei yang berakhir ricuh. Aksi ini dimulai pada tanggal 21 mei menanggapi adanya aksi tersebut hal kepolisian menutup lalu lintas di jalan M.H. Thamrin, baik yang berasal dari arah jalan sudirman menuju kawasan monumen nasional dan sebaliknya. Rekayasa lalu lintas pun dilakukan untuk mengatisipasi adanya penumpukan massa. Selain itu pihak kepolisian pun juga telah mencoba melakukan negosiasi dengan para demonstran untuk menghindari adanya kericuhan. Namun kerusuhan tetap terjadi, aksi yang berawal damai pun mulai berubah menjadi sebuah aksi penghancuran. Dilansir dari beberapa surat kabar yang beredar aksi 22 mei ini merupakan aksi yang direncanakan untuk kepentingan tertentu diantaranya adalah,
  • Merupakan isu narasi politik demi melengserkan sebuah kepemimpinan yang baru saja terpilih.
  • Semua dalang di balik kerusuhan ini merupakan kumpulan manusia yang dibayar oleh suatu lembaga yang berkepentingan.
  • Bahkan ada yang menyebutkan jika kerusuhan ini adalah sebatas bentuk untuk mencari perhatian publik yang diharapkan nantinya dapat memantik kericuhan lain di seluruh bagian negara Indonesia.
  • Bahkan ada yang menyebutkan jika kerusuhan ini adalah sebatas bentuk untuk mencari perhatian publik yang diharapkan nantinya dapat memantik kericuhan lain di seluruh bagian negara Indonesia.

   Hal ini menjadi pedoman para penguasa untuk melawan para demonstran. Hal ini juga dijadikan suatu landasan para pihak keamanan untuk melawan para demonstran. Kebenaran atas opini yang beredar masih ditelusuri, beberapa fakta yang terlihat pada saat ini adalah pihak keamanan masih terus berusaha menelusuri lebih jauh mengenasi kasus ini dan telah di temukannya beberapa aliran dana kepada para demonstran. Dan saat ini pihak keamanan sudah mengamankan beberapa tersangka yang di duga sebagai dalang di balik aksi ini. Negara Indonesia merupakan satu kesatuan dari masyarakat yang memiliki keinginan yang sama yaitu mememiliki kehidupan yang lebih baik, dan sejahtera di negara tercinta, dimana sila kelima dalam pancasila dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat. Namun kesatuan tersebut akan luruh apabila terdapat pemikiran kotor yang hanya mementingkan diri sendiri. Sehingga memicu timbulnya saling baku hantam antar warga yang seharusnya berada dalam satu misi, apabila direnungkan kembali apakah aksi ini harus terjadi ?. Keberhasilan suatu negara juga didukung oleh bagaimana sikap masyarakat didalamnya, jadi dengan kata lain apabila ingin menjadikan indonesia menjadi negara yang hebat maka masyarakatnya pun juga harus berperilaku cerdas.





Daftar Pustaka,
Faris.Fitria Chusna. (2019). Soal Temuan Ribuan C1 di Menteng, KPU Akan Cek Keasliannya. Dalam www.nasional.kompas.com. Diakses pada 16 juni 2019
Umasugi, Ryana. Aryana. (2019). 2 Kardus Formulir C1 Boyolali Ditemukan Polisi Dari Mobil Sigra. Dalam www.megapolitan.kompas.com. Diakses pada 16 juni 2019
Virianita, R. (2008). Partisipasi Buruh Dalam Aksi Unjuk Rasa. Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan, 2(3).
Prastiwi, Dewi (2019). Temuan-Temuan Terbaru Polisi Terkait Kerusuhan Aksi 22 Mei. Dalam www.liputan6.com. Diakses pada 16 juni 2019



Tidak ada komentar:

Posting Komentar